Ahok Baru Non-Aktif Sebentar Kali Sentiong Penuh Sampah, Gimana Kondisi 5 Tahun Ke Depan Jika Bukan Ahok Gubernurnya?? Coba Mikir Ya…

Posted on 4,810 views

YUKBABE.COM – Dalam perhelatan pilkada DKI Jakarta, tiap pasang cagub dan cawagub berusaha menjual janji, ide-gagasan, dan bahkan ada juga yang jual penampilan (ganteng, pribumi, murah senyum, sopan, dll) yang sebenarnya tidak ada kaitannya atau berefek pada kondisi Jakarta 5 tahun ke depan.

Buat apa ganteng, buat apa sopan, buat apa murah senyum dan tidak pemarah, namun pada akhirnya korupsi merajalela? Mengapa bukan menjual ide dan program kerja saja? Apalagi jika ada yang menjual isu agama dan suku, ini lebih kacau lagi.

Ingin DKI Jakarta lebih baik? Ingin birokrasi kita kembali cepat kinerjanya? Ingin anak-anak mendapatkan kualitas hidup dan pendidikan yang lebih baik? Ingin melihat DKI Jakarta bisa disejajarkan bahkan lebih dari negara tetangga? Saatnya kita beralih ke pemimpin yang benar-benar terbukti bekerja untuk rakyat.

Berikut ini yukbabe.com copas dari viva.com terkait kondisi Kali Sentiong sepeninggalan Ahok, gubernur yang ‘dipaksa’ harus cuti lebih awal. Baru ditinggal beberapa waktu sudah begini penampakannya. Gimana kalau ditinggal 5 tahun ke depan?

[baca juga : Dimanakah Aparat Hukum Ketika Kebaktian Natal Dibubarkan?]

kali-sentiong-kotor-dan-bau

Tumpukan sampah terlihat memenuhi Kali Sentiong, Johar Baru, Jakarta Pusat, Kamis, 8 Desember 2016. Padahal, sehari-harinya, jarang terlihat tumpukan sampah sampai sebanyak itu di Kali tersebut.

Informasi yang dihumpun, ternyata banyaknya tumpukan sampah di sana lantaran seluruh Pegawai Harian Lepas (PHL) Unit Pelaksana Kebersihan (UPK) Badan Air atau biasa disebut pasukan oranye di Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, sedang mendapatkan sanksi skorsing.

Mereka diskorsing karena beberapa waktu lalu diduga terlibat kampanye dengan salah satu pasangan calon gubernur-wakil gubernur.

Akibat hal tersebut, beberapa PHL dari kecamatan lain seperti dari Kecamatan Cempaka Putih, Kecamatan Senen, sebenarnya sudah diperbantukan guna membersihkan sampah. Tetapi tidak maksimal lantaran PHL yang diperbantukan itu juga harus menuntaskan pekerjaan mereka di wilayah asli mereka.

“Kinerja jadi tak maksimal karena PHL yang diperbantukan ini harusĀ  menyelesaikan pekerjaan di wilayah kerja aslinya. Sampah yang seharusnya bisa dibereskan sehari, jadi molor dua hari,” kata Pengawas UPK Badan Air Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Rachmat Santoso.

[baca juga : [Apa Komentar Anda?] Sandiaga: Hanya Kami Calon yang Tegas Menolak Reklamasi]

Dari pantauan di lokasi, tumpukan sampah didominasi oleh plastik sisa makanan seperti bungkus mi instan dan sebagainya. Akibat banyaknya tumpukan sampah di sana, beberapa warga sekitar mengaku mencium bau tidak sedap.

“Memang jadi bau kadang. Dilihatnya juga tidak sedap,” ucap Ruri (45), salah seorang warga.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menskors 63 Pekerja Harian Lepas (PHL) Dinas Kebersihan DKI Jakarta. Sanksi itu diberikan lantaran mereka diduga terlibat kampanye Agus-Sylvi, salah satu pasangan calon di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono menyebut PHL yang diberi sanksi di antaranya 38 orang dari Kecamatan Kemayoran, dan 25 orang dari Kecamatan Johar Baru. Selama diskors, para PHL itu juga tidak akan menerima gaji.

“Ini sudah confirm dan jadi laporan ke pelayanan unit Dinas Kebersihan DKI, ini telah dilakukan identifikasi dan BAP (Berita Acara Pemeriksaan),” kata Plt Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono, Jumat, 25 November 2016. (ase) – viva.com

So, apa yang ada dalam pikiran kita jika melihat kondisi ini? Apakah kita mau DKI Jakarta kembali ke ‘masa lalu?’ Relakah kita Jakarta semakin terpuruk? Ayo pilih pemimpin yang benar-benar terbukti kinerjanya untuk Jakarta Bersih, Jakarta Sehat, dan Jakarta Maju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *