Kualitas Suatu Negara Dinilai Dari Rakyat dan Toiletnya

Posted on 74 views

Bagaimana rasanya membenci keluarga tapi Anda hidup serumah dengan mereka? Tidak ada rasa hormat pada ayah, sering bertengkar dengan ibu, dan tidak ada rasa kasih sayang pada saudara sendiri.

Seperti itulah kira-kira ketika Anda hidup di Indonesia, mencari makan dan bergantung pada tanahnya, tapi Anda membenci pemerintahan yang berkuasa.

Saat membenci pemerintah, yang Anda benci mungkin baik-baik saja, tapi siapa yang menanggung ‘ketidaknyamanan’ sebagai konsekuensi dari rasa benci itu sendiri?

Bagaimana bisa Anda meminum racun tapi berharap orang lain yang mati?
Apakah dengan membenci, serta merta pemerintah akan berganti sendiri?

Ketidakpuasan terhadap pemerintah selalu ada, tidak peduli siapa yang sedang berkuasa.

Sekarang, katanya jaman Pak Soeharto adalah jaman yang paling enak, tapi kenapa dulu orang-orang kompak melengserkan?

Apakah benar jika kebaikan orang lebih kelihatan saat sudah jadi mantan? #eh

Dulu dicerca, sekarang dipuja.

Sekarang dihina, kalau sudah jatuh baru kelihatan baiknya.

Saya pernah menulis status dengan judul “KUALITAS SUATU NEGARA DINILAI DARI RAKYAT DAN TOILETNYA”

Bagaimana bisa? Karena pemerintah juga berasal dari kita-kita. Percuma mengganti total semua pejabat negara, karena masalah moral ini telah merata ke seluruh rakyat Indonesia, karakter buruk pemerintah sudah mencapai lapisan rakyat paling kecil. Ya, itu adalah KITA sebagai masyarakatnya.

Wakil rakyat yang ada sekarang ini berasal darimana? Dari KITA kan? Berarti KITA yang sebenarnya bobrok sehingga menghasilkan wakil rakyat yang bobrok juga.

Kalau melihat ada anggota dewan yang berantem dalam sidang, itu karena dia berasal dari kultur masyarakat yang anarkis.

Kalau melihat ada pejabat kita yang korup, ya karena dia berasal dari masyarakat yang feodal dan konsumtif.

Yang dulu lantang berteriak di jalan menentang korupsi, justru saat diangkat mereka melakukan hal yang dulu ditentangnya. Karena apa? Karena ia pun berasal dari masyarakat yang tidak “TERDIDIK”.

Dulu negara kita pernah dipimpin oleh ilmuwan, tapi tidak membuat rakyatnya serta merta intelek semua.

Negara kita pernah dipimpin seorang ulama, tapi tidak membuat rakyatnya religius dan berkarakter mulia.

Negara kita juga pernah dipimpin seseorang yang bijak, tapi tetap saja rakyatnya banyak yang anarkis.

Karena masyarakat terlalu berharap bahwa pemerintah yang akan mengubah mereka, tapi mereka tetap saja mempertahankan karakter-karakter lama.

Cobalah tengok realita. Dengan memupuk kesadaran “semua salah pemerintah”, kapan kita sendiri akan mulai berbenah?

Kualitas suatu negara juga bisa dilihat dari toiletnya. Jika di toilet-toilet yang mayoritas penggunanya orang dewasa pun masih ada peringatan “Siram kloset setelah dipakai”, jika untuk hal sesederhana itu saja perlu diingatkan, diatur, dan ditegur, apalagi mau ngurus negara?

*)Afi Nihaya F.

( Saya tidak mempunyai fanpage dan akun medsos lain selain satu akun ini. Yang punya kepentingan silahkan inbox lagi, barangkali belum terbaca 🙂 Tidak perlu ijin untuk share.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *