[Pilih Mana?] Bubarkan Densus 88 atau Bubarkan Ormas Si Anu….?

Terima kasih Densus 88. Kiranya kalian selalu dalam perlindungan Allah Ta'Ala. Terus berkarya dalam membasmi teroris dari bumi pertiwi. Dan tentu saja jika disuruh memilih bubarkan Densus 88 atau ormas si anu...? Tentu saja saya memilih Densus 88 supaya tetap ada di Indonesia. Sebab Densus 88 adalah bukti kehadiran negara bagi warga negaranya. Kalau ormas si anu......? No comment dah...
By
6,784 views 0
sumber gambar dari detik.com

YUKBABE.COM – Densus 88 itu seperti buah durian. Bau yang harum nan nikmat bagi yang doyan durian tetapi bau yang tidak sedap bagi yang tidak doyan. Demikianlah adanya Densus 88 yang terkenal akan aksinya memberantas berbagai aksi teroris di Indonesia. Dan tentu saja ada yang tidak suka dengan aksi Densus 88. Kira-kira siapa yang tidak suka? Tentu saja para pelaku teror dan simpatisannya. Betul apa betul? Dengan ‘mengoreng’ berbagai isu supaya polisi anti teror ini dibubarkan supaya para pelaku teroris bisa leluasa melakukan aksi mereka sama seperti kasus bom bekasi yang baru saja tertangkap aksinya.

Sebagai warga negara yang cinta damai dan tidak mau Indonesia disuriahkan oleh para pelaku teror, kami mengucapkan terima kasih kepada Densus 88 yang keren dan hebat. Doa kami kalian semua panjang umur, murah rejeki, sehat selalu, dan selalu dalam perlindungan Allah Ta’ala.

Berikut ini adalah beberapa aksi Densus 88 yang dikutip dari https://id.wikipedia.org

  • 9 November 2005 – Detasemen 88 Mabes Polri menyerbu kediaman buronan teroris Dr. Azahari di Kota Batu, Jawa Timur yang menyebabkan tewasnya buronan nomor satu di Indonesia dan Malaysia tersebut.
  • 2 Januari 2007 – Detasemen 88 terlibat dalam operasi penangkapan 19 dari 29 orang warga Poso yang masuk dalam daftar pencarian orang di Kecamatan Poso Kota. Tembak-menembak antara polisi dan warga pada peristiwa tersebut menewaskan seorang polisi dan sembilan warga sipil.
  • 9 Juni 2007 – Yusron Mahmudi alias Abu Dujana, tersangka jaringan teroris kelompok Al Jamaah Al Islamiyah, ditangkap di desa Kebarongan, Kemranjen, Banyumas, Jateng
  • 8 Agustus 2009 – Menggerebek sebuah rumah di Jati Asih, Bekasi dan menewaskan 2 tersangka teroris
  • 7 – 8 Agustus 2009 – Mengepung dan akhirnya menewaskan tersangka teroris Ibrahim alias Baim di Desa Beji daerah Kedu, Temanggung.
  • 16 September 2009 – Menangkap dua tersangka teroris yakni Rahmat Puji Prabowo alias Bejo dan Supono alias Kedu di Pasar Gading, Solo, sekitar lima jam sebelum penangkapan di Kepuhsari, Mojosongo.
  • 17 September 2009 – Pengepungan teroris di Kampung Kepuhsari Kelurahan Mojosongo Kecamatan Jebres Solo dan menewaskan 4 tersangka teroris di antaranya adalah Noordin Mohammed Top, Bagus Budi Pranowo alias Urwah, Hadi Susilo, Aryo Sudarso alias Aji dan isteri Hadi Susilo, Munawaroh, yang berada di dalam rumah akhirnya selamat tapi terkena tembakan di bagian kaki

Setujukah Anda Jika Densus 88 Dibubarkan?

Tentu saja TIDAK SETUJU SALAM SEKALI. Dalam hal ini, saya copas tulisan Mora Sifudan – seword.com. Memang mengingat kembali masa lalu itu ngeri-ngeri sedap, pahit-pahit kecut gitu loh. Apalagi kalau kita harus menghadapi hidup kekinian. Semakin miris hati ini …

Adalah Habieb Rizieq, berapi-api berkobar-kobar berkoar-koar tak Lelah mendesak pemerintah untuk membubarkan Densus 88 Anti terorisme. Dia mengajak umat muslim untuk mendukung pembubaran detasemen khusus anti-teror ini. Saya sampai berpikiran negatif, jangan-jangan …?

Kalau Anda tidak percaya, lihat di bawah ini… tolong jangan takut kuotanya habis. Tenang aja, kualitas videonya tidak bagus tapi suaranya masih terdengar jelas. Anda tidak akan rugi kog!

Bukan hanya Habib, masih ada banyak lagi. Bahkan berbagai aksi. Buktinya cari sendiri di Youtube atau klik di sini. Tadaaaa kebukah dech…..

Itulah sedikit fakta bahwa FPI, HTI dan kroninya berusaha membubarkan Densus 88 dengan berbagai cara. Mereka demo di mana-mana, seperti biasa. Taulah kan. Alasannya selalu ada saja. Mulai dari pelanggaran HAM, main hakim sendiri, dlsb. sekaligus mengabaikan jasa Densus 88 bagi penanggulangan bahaya terorisme di bumi Indonesia yang kucintai ini. Saya semakin heran karena mereka melakukannya tiada hentinya. Mereka sungguh konsisten bahwa Densus 88 harus dibubarkan. Juga seperti biasanya, pokoknya harus dibubarkan. WOW?

Ada apa yah? Kalau seorang cowok memosisikan diri sebagai penyelamat buatmu. Lalu dia meminta kamu memutuskan pacarmu dengan dalih bahwa pacarmu selingkuh dengan wanita lain dan sebenarnya hanya memanfaatkanmu, ditambah lagi bahwa pacarmu itu cowok gak benar. Di sisi lain, dia memosisikan dirinya sebagai teman atau orang yang prihatin dan care sama kamu. Kamu (yang sudah sangat mengenal pacarmu) akan berpikir apa? Pasti berpikir jangan-jangan dia ini mau merebut aku dari pacarku. Iya gak?

Tapi apa pun niat FPI, HTI dan kroninya, hari ini kita patut berbangga. Pada 10 Desember 2017, di Bintara Bekasi, Densus 88 dapat mengendus bom high explosive (berdaya ledak tinggi) yang dibantu informasi BIN. Bom ini sudah siap diledakkan dan target sudah ditentukan, di istana presiden pada saat pergantian jaga Paspanpres. Andai kata Densus 88 tidak menangkap pelaku, menyita bom dan mengidentifikasi serta mengurainya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Jadi pengen buat ini #Bangga_punya_Densus_88.

Densus 88: Tanda Kehadiran Negara

Saya bukan ahli, tetapi sebagai orang awam dalam anti-terorisme tidak sulit memahami kesulitan Densus 88 dalam menghadapi terorisme. Bahkan BIN dan BNPT sekalipun bisa saja kecolongan, seperti di Samarinda. Menghadapi terorisme tidak seperti menghadapi pembunuhan, perampokan, penganiayaan, dlsb. Terorisme itu seperti hantu, ada tapi tidak ada. Mereka ada, tetapi siapa dan di mana kita tidak tahu. Ketakutan yang diciptakannya juga nyata. Tapi kapan mereka akan melakukan aksi dan apa yang mereka gunakan juga kita tidak tahu. Untuk itu dibutuhkan ahli dalam hal ini. Densus 88 adalah jawaban dari kebutuhan ini. Inilah bentuk kehadiran negara di tengah-tengah Anda, saya dan negeri ini.

Sejak bom Bali, bangsa ini punya ketakutan tersendiri dalam menghadapi terorisme. Ancaman bom menghantui setiap insan di negeri ini. Saya tidak tahu, kenapa FPI, HTI dan kroninya tidak pernah merasa dihantui bahaya terorisme. Nah loh….. kalau kamu tidak takut akan bahaya yang mengancam, sementara negaramu takut, bukankah kamu tidak akan dianggap bagian dari bahaya itu?

Mungkin Anda menganggap saya sebagai orang yang mendukung kalau Densus 88 suka-suka membunuh orang hanya berdasarkan sangkaan. Maaf! Saya tidak termasuk orang yang menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan, seperti sesapian dan begundal-begundalnya. Saya tidak setuju jika Densus 88 mengutamakan tindakan preventif bukan pro-aktif, penindakan bukan pencegahan.

Jangankan Densus 88, Presiden pun saya tantang soal hukuman mati bagi gembong narkoba. Saya berpihak pada hidup, bukan kematian. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mengambil hak hidup orang lain, karena hidup itu pemberian. Karena pemberian, maka tidak ada seorang pun yang berhak mengambilnya kecuali si pemberi hidup. Jadi tidak ada alasan, sekalipun itu demi alasan kebaikan, misalnya demi menyelamatkan generasi bangsa bahwa gembong narkoba harus dibinasakan. Itu salah kaprah. Mungkin kita berbeda dalam hal ini, itu biasa…..

Tapi berbeda dengan Densus 88. Kalau Densus 88 suatu saat, dan mungkin pernah melakukannya, menembak mati seorang karena diduga teroris, itu di luar kehendak mereka. Keadaan ketika mengejar teroris, sekali lagi, tidak sama dengan mengejar begal, pembunuh, pencuri, pelaku makar, dlsb. Kalau saja mudah mengenali siapa teroris, kita tidak butuh Densus 88. Kalau saja mengenal teroris itu seperti mengenal Habib Rizieq, sebagai seorang pembenci kafir, Densus 88 tidak akan pernah ada.

Jika demi seorang terduga penista agama, FPI, HTI dan kroninya mampu mengumpulkan titik-titik massa pendukung, sampai rugi miliaran rupiah, kenapa mereka tidak mengumpulkan dukungan kepada pembela negara, Densus 88, dari teroris yang jauh lebih berbahaya, yang hanya berkorban mulut diam saja. Jika aksi super damai 212 menjadi momentum doa berjamaah terbanyak sepanjang, kenapa kepada Densus 88 sebagai pemberantas teroris, demi keamanan jamaah, mereka justru teriak berjamaah membubarkannya.

Maka mulai dari sekarang, mari mendukung pemerintah dan jajarannya untuk membawa NKRI ini kepada kemajuan. Mari kita dukung Densus 88, BIN, BNPT, Polri dan TNI untuk menjaga negara ini dari ancaman apa pun. Jadilah warga negara waras. Sampaikan kritik dan saran secara waras, tidak perlu teriak apalagi jingkrak-jingkrak, emang dugem. Kalau tidak mau hidup di negara damai, silakan pindah. Negara ini tidak butuh begundal-begundal pemecah-belah negara.

Akhir kata, semoga penjaga keamanan bangsa ini semakin ahli menjalankan tugasnya. Hidup Densus 88, hidup Polri, TNI, BIN, BNPT, dlsb. Khusus, hidup Indonesia, jayalah bangsaku.

Teriring doa dan salam Indonesiaku….

Baca Juga

Terima kasih Densus 88. Kiranya kalian selalu dalam perlindungan Allah Ta’Ala. Terus berkarya dalam membasmi teroris dari bumi pertiwi. Dan tentu saja jika disuruh memilih bubarkan Densus 88 atau ormas si anu…? Tentu saja saya memilih Densus 88 supaya tetap ada di Indonesia. Sebab Densus 88 adalah bukti kehadiran negara bagi warga negaranya. Kalau ormas si anu……? No comment dah…

Yuk bagikan berita/artikel ini supaya banyak yang baca dan tahu. Silahkan berkomentar dengan santun.

No Comments

Leave a Reply