Respon Cepat Ridwan Kamil – 9 Keputusan Pemkot Bandung Terkait Insiden Pembubaran Kebaktian Natal di Sabuga

Posted on 2,622 views

YUKBABE.COM – Pembubaran kebaktian Natal di Sabuga Bandung menjadi PR serius bagi Pemkot Bandung. Selaku walikota Bandung, Ridwan Kamil bertanggung jawab penuh untuk menertibkan hal ini. Dan di sini terlihat respon cepat dan tegas dari seorang pemimpin bangsa yang layak dicontoh oleh kepala pemerintahan di kota lainnya.

Setelah rapat dengan pihak-pihak terkait, Pemerintah Kota Bandung akhirnya membuat keputusan terkait insiden penghentian Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Sabuga beberapa waktu lalu oleh Ormas Pembela Ahli Sunah (PAS). Ormas ini dinilai bersalah dan diwajibkan memberikan surat permohonan maaf kepada panita KKR.

Informasi keputusan ini disampaikan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil lewat akun Facebook-nya seperti dilihat detikcom, Sabtu (10/12/2016).

Ada 9 poin penting yang dijabarkan Emil yang merupakan hasil keputusan dari rapat dengan pihak-pihak terkait itu. Salah satunya, masuknya Ormas PAS secara fisik ke ruang peribadatan KKR di Gedung Sabuga pada Selasa (6/12) lalu disebut merupakan pelanggaran secara hukum.

Dalam rentang waktu 7 hari sejak keputusan ini dibuat, Ormas PAS diwajibkan memberikan surat permohonan maaf kepada panita KKR. Selain itu juga menyatakan kepada Pemkot Bandung akan mengikuti semua peraturan perundangan-undangan dalam berkegiatan sebagai Ormas di wilayah hukum Negara Indonesia.

“Apabila Ormas PAS menolak memberikan surat pernyataan, maka Pemkot Bandung yang secara hukum diberi kewenangan oleh UU 17 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan, akan memaklumatkan PELARANGAN berkegiatan di wilayah hukum Kota Bandung kepada Ormas PAS,” demikian isi poin ketujuh hasil kesepakatan tersebut.

Berikut isi lengkap keputusan sesuai yang disampaikan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil:

Melaporkan hasil rapat dan kesepakatan antara Pemkot Bandung dengan MUI, Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB), Forum Silaturahmi Ormas Islam (FSOI), Kemenag Kota Bandung, Bimas Kristen Kemenag Jawa Barat, Polrestabes Bandung dan Kejaksaan Negeri Kota Bandung tanggal 8 Desember 2016 dan Hasil rapat antara Pemkot Bandung dan Komnas HAM tanggal 9 Desember 2016, terkait permasalahan kegiatan KKR di Sabuga tanggal 6 Desember 2016.

Dengan ini dipermaklumkan:

1. Kegiatan ibadah keagamaan TIDAK memerlukan izin formal dari lembaga negara, cukup dengan surat pemberitahuan kepada kepolisian.
2. Kegiatan ibadah keagamaan DIPERBOLEHKAN dilakukan di gedung umum, selama sifatnya insidentil. SKB 2 Menteri 2006 hanyalah tata cara untuk pengurusan izin Pendirian Bangunan Ibadah permanen/sementara.
3. Tidak boleh ada kelompok masyarakat sipil yang melakukan pembatasan, perintangan, unjuk rasa atau melakukan kegaduhan terhadap kegiatan ibadah keagamaan yang sudah legal karena melanggar KUHP pasal 175 dan 176, dengan hukuman kurungan badan maksimal 1 tahun 4 bulan.
4. Kehadiran secara fisik di ruangan peribadatan KKR oleh sekelompok warga yang tergabung dalam Ormas Pembela Ahli Sunah (PAS) di tanggal 6 Desember 2016, adalah pelanggaran hukum KUHP. Seburuk-buruknya situasi yang berhak melakukan pemberhentian kegiatan keagamaan dengan alasan hukum yang dibenarkan hanyalah aparat negara bukan kelompok masyarakat sipil.
5. Sesuai UU 17 Tahun 2013 tentang Keormasan, Ormas dilarang menebarkan rasa permusuhan terhadapa suku, agama, ras dan golongan. Karenanya Pemkot Bandung memberi sanksi kepada Ormas PAS dengan 2 tahap sanksi sesuai aturan: Tahap persuasif dan Tahap Pelarangan Organisasi.
6. Tahap persuasif: dalam rentang waktu 7 hari, pihak Ormas PAS diwajibkan memberikan surat permohonan maaf kepada panita KKR dan menyatakan kepada Pemkot Bandung akan mengikuti semua peraturan perundangan-undangan dalam berkegiatan sebagai Ormas di wilayah hukum Negara Indonesia.
7. Apabila Ormas PAS menolak memberikan surat pernyataan, maka Pemkot Bandung yang secara hukum diberi kewenangan oleh UU 17 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan, akan memaklumatkan PELARANGAN berkegiatan di wilayah hukum Kota Bandung kepada Ormas PAS.
8. Sesuai rekomendasi Komnas HAM, aspek dugaan pelanggaraan hukum oleh Ormas PAS atas situasi ini agar dilakukan secepatnya dan sebaik-baiknya oleh pihak kepolisian.
9. Meminta MUI, FKUB dan FSOI untuk mengintensifkan forum dialog antara kelompok umat beragama di Kota Bandung.

Demikian kesepakatan bersama yang diambil dengan seadil-adilnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai tindak lanjut dari permasalahan kegiatan KKR yang terjadi tanggal 6 Desember 2016 di Sasana Budaya Ganesha.

Hatur Nuhun.- sumber: detik.com

Baca Juga :

Baca Juga

Jelas bahwa pengadaan kegiatan keagamaan (termasuk penambahan jam tersebut) tidak perlu memerlukan izin, melainkan hanya surat pemberitahuan.  Dan pemberitahuan itu sudah dilaksanakan.  Ridwan Kamil sudah menyatakan ketidakbersalahan pihak Stephen Tong Evangelistic Ministry Indonesia.  Ini menunjukkan bahwa Ridwan Kamil masih konsisten dengan ucapannya mengenai toleransi.  Dan apa yang sudah dia lakukan, harus kita dukung bersama.

Tinggal tunggu saja, apakah PAS akan ditindak secara tegas atau tidak. Bila tidak ada surat permintaan maaf pada pihak panitia, maka seharusnya Ridwan Kamil menindaklanjutinya dengan membubarkan PAS seperti apa yang sudah ia janjikan.

YUKBABE.COM melihat bahwa ini adalah respon yang baik dan patut diapresiasi. Mari kita bina kerukunan demi Bhineka Tunggal Ika. Salam damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *