Sejak Kapan Tuhan itu Logis? Apakah Tuhanmu Produk Logika Belaka?

Posted on 251 views

YUKBABE.COM – Apakah Tuhan kita hanya sebatas logika saja? Apakah ceramah Habib Rizieq itu masuk logika? Terlepas dari semua itu, berikut ada tulisan yang menarik dari Gobind Vashdev, yuk disimak sama-sama…

KONSEP… KONSEP .. KONSEP

“Tuhanmu kok banyak, sih?”

“Emang kenapa?”

“Ya konyol. Masak Tuhan banyak.”

“Emang siapa yang berwenang mengatur jumlah Tuhan?”

“Tapi, Tuhan kan logisnya cuma satu?”

“Sejak kapan Tuhan itu logis? Apakah Tuhanmu produk logika? Kalau Tuhan maha kuasa, ia berkuasa juga atas wujud dirinya. Dia mau satu, atau banyak, itu kuasa Dia, bukan?”

—-

“Tuhanmu kok beranak, sih?”

“Emang kenapa?”

“Ya konyol. Masak Tuhan beranak.”

“Emang siapa yang berwenang mengatur Tuhan boleh beranak atau tidak?”

“Tapi, Tuhan kan logisnya tidak beranak?”

“Sejak kapan Tuhan itu logis? Apakah Tuhanmu produk logika? Kalau Tuhan maha kuasa, ia berkuasa juga atas wujud dirinya. Dia mau satu, atau banyak, atau beranak, itu kuasa Dia, bukan?”

Kalau Anda merasa konsep Tuhan orang lain itu konyol, sadarilah bahwa konsep Tuhan yang Anda anut juga konyol di mata orang lain.

Tulisan di atas itu saya ambil dari timelinenya Kang Hasan, sosok yang disukai sekaligus dibenci banyak orang.

Anda pasti tahu saya pasti tidak tertarik mencari siapa yang benar dan salah, apakah itu satu atau tiga, punya anak atau sendiri danseterusnya.

berulangkali saya mengingatkan diri sendiri juga melalui tulisan bahwa bila kita tidak setuju atau sepaham dengan orang lain itu bukan berarti apa yang saya pegang benar dan yang lain salah.
tapi apa yang tertanam dipikiran kita berbeda bahkan berlawanan dengan pikiran orang lain.

Kalau sejak kecil saya ditanamin pikiran yang berbeda dengan yang sekarang maka saya juga akan menentang apa yang saya percayai sekarang.

Jadi namanya setuju atau tidak setuju itu tidak ada hubungannya dengan kebenaran. kita sepakat karena sesuatu yang kita dengar atau lihat sesuai dengan apa yang ada di dalam otak, dan sebaliknya.

Kebenaran tidak dapat di deskripsikan , ia adalah sesuatu yang melewati konsep. Seperti juga Tuhan. “Tuhan yang menciptakan manusia” adalah konsep yang sampai kapanpun masih akan di debatkan, sebaliknya yang lebih pas adalah “manusia yang menciptakan Tuhan”.

kitalah yang “memasukan” tuhan dalam ranah logis , menggambarkan dengan imajinasi pikiran yang terkondisi, menuliskan dengan kata dan kalimat yang sangat terbatas, dan suara yang penuh distorsi.

Itulah konsep, bukan kenyataan, bukan realita , hanyalah konsep yang muncul dari rana yang sangat lemah dan sempit. menariknya kita meributkan konsep bahkan bunuh-membunuh hanya karena konsep.

Bagaikan 2 orang yang belum pernah mencicipi namun meributkan rasa mangga. 2 orang itu masing-masing mendapat informasi tentang rasa mangga dari bapaknya dan yang bapaknya juga mendapat informasi dari bapaknya juga dan seterusnya.

Jarang sekali ditemukan orang yang mulai mencari mangga, mengupasnya dan menikmati, sebagian besar dari kita berbicara tentang Tuhan yang dikonsepkan oleh pikirannya sendiri.

Sampai kapanpun perdebatan tidak akan memuaskan, hanya buih ego yang terasa lezat sebentar karena merasa menang dan setelahnya meninggalkan rasa kecanduan yang getir,

Dan bagaimana seseorang dapat memperoleh kesadaran yang lebih dikala pikirannya terbelenggu oleh candu ego?

sumber artikel: https://www.facebook.com/gobindvashdev/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *